Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Science. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2012

Gajah Sumatera Makin Terdesak Kepunahan

PARIS - International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) baru-baru ini mengubah status gajah Sumatera dari "endangered" menjadi "critically endangered". Perubahan tersebut dilakukan sehubungan makin menipisnya populasi gajah langka ini.

Gajah asli dari Indonesia tersbut dikatakan bisa saja mengalami kepunahan pada 30 tahun mendatang. Spesies yang berukuran paling kecil di antara gajah lain itu kehilangan setengah dari populasi mereka dan 70 persen habitanya, hanya dalam rentang satu generasi atau 25 tahun. Seperti diwartakan Live Science, Rabu (25/1/2012), diperkirakan hanya sekira 2.400 sampai 2.800 spesies saja yang tersisa di alam liar.

Menurut laporan IUCN, sebab utama penurunan populasi tersebut adalah hilangnya hutan dan konversi habitat asal mereka menjadi lahan pertanian. Para peneliti mencatat 9 populasi di provinsi Lampung telah hilang sejak pertengahan 1980. Pada survei hutan 2009 di provinsi Riau, hanay dalam selang lima tahun ditemukan enam kelompok yang punah.

"Nampaknya pola ini yang akan berlanjut," tulis laporan tersebut.

Secara keseluruhan, Pulau Sumatera telah kehilangan lebih dari sepertiga hutan dataran rendah alaminya. Padahal hutan tersebut adalah habitat paling tepat untuk gajah-gajah tersebut.

Organisasi World Wide Fund for Nature (WWF) berpendapat, perusahaan pulp and paper dan perkebunan sawit berperan dalam mempercepat hilangnya hutan.

"Gajah Sumatera bergabung dalam daftar spesies Indonesia yang secara kritis terancam, termasuk juga orang utan Sumatera, badak Jawa dan Sumatera, dan harimau Sumatera," tandas Carlos Drews, Director of Global Species Program di WWF.

"Jika tidak segera mengambil tindakan konservasi yang efektif, hewan-hewan menakjubkan ini nampaknya akan segera punah di masa kita masih hidup," tambahnya.
»»  LANJUTKAN...

Dikira Punah, Monyet Ini Ditemukan Kembali di Indonesia

JAKARTA - Monyet bernama Miller's Grizzled Langur ini berwajah hitam dan memiliki kerah putih layaknya penampilan Drakula. Meskipun sempat dikira punah, para peneliti menemukannya kembali di Pulau Kalimantan, Indonesia.

Tim peneliti tesebut memasang perangkap kamera di hutan Wahea, ujung timur Pulau Kalimantan, sambil berharap mendapat foto macan tutul, orang utan, dan beberapa satwa liar lain yang dikenal suka berkumpul titik yang mengandung garam mineral. Seperti diwartakan Associated Press, Jumat (20/1/2012), para peneliti tersebut memperoleh foto yang sangat mengejutkan, yaitu sekelompok monyet yang belum pernah  terlihat sebelumnya.

Lutung beruban atau Grizzled Langur tersebut sebelumnya hanya diketahui dari sketsa di museum. Tanpa adanya foto virtual dari keberadaan lutung beruban, para peneliti mengalami kesulitan untuk mengkonfirmasi dugaan mereka.

"Kami semua sangat senang dengan fakta bahwa, wow, monyet ini masih hidup, dan berada di Wahea," kata Brent Loken, salah satu peneliti yang memimpin proyek tersebut, sekaligus mahasiswa Ph.D. di Simon Fraser University, Kanada.

Monyet berwajah hitam tersebut sebelumnya diketahui hidup di wilayah timur laut Kalimantan. Namun, hutan tempat hidup monyet langka itu telah hancur akibat kebakaran, perambahan hutan oleh manusia, dan konversi lahan untuk pertanian dan pertambangan.

"Bagi saya penemuan monyet ini mewakili begitu banyak spesies di Indonesia. Ada banyak jenis hewan yang baru sedikit diketahui, sementara wilayah yang jadi tempat tinggal mereka menghilang begitu cepat," terang Brent.

"Rasanya seolah banyak binatang seperti ini yang akan semakin cepat mencapai kepunahan," tandasnya.
»»  LANJUTKAN...

46 Spesies Baru Ditemukan di Hutan Tropis Suriname

PARAMARIBO - Ekspedisi hutan tropis perawan di Suriname membuahkan penemuan lebih dari 40 spesies baru. Tiga yang paling unik di antaranya adalah lele berduri (armoured catfish), crayola katylid, dan katak cowboy (cowboy frog).

Lele berduri ditemukan dalam ekspedisi tersebut memiliki lempengan tulang berlapis duri, untuk melindungi tubuhnya dari serangan piranha raksasa yang berbagi habitat dengannya. Kemudian crayola katylid adalah seekor jangkrik dengan tubuh berwarna cerah, sedangkan katak cowboy adalah amfibi dengan garis berwarna putih di sepanjang kakinya dan pada tumitnya terdapat sesuatu yang menyerupai taji.

Ketiga hewan bertubuh unik di atas termasuk di antara hewan yang berpotensi sebagai spesies baru. Seperti diwartakan BBC, Rabu (25/1/2012) saat ini tim ekspedisi tersebut sedang dalam proses meneliti dan mengkonfirmasi manakah yang termasuk hewan yang baru ditemukan.

Tim ekspedisi tersebut juga menemukan hewan menakjubkan lainnya yang memang sudah dikenal oleh ilmu pengetahuan. Dilansir dari Live Science, hewan menakjubkan tersebut adalah katak Pac-Man (Ceratophrys cornuta), spectacular conehead katydid (Loboscelis bacatus), dan great horned beetle (Coprophanaeus lancifer).

"Dengan banyaknya serangga unik dan mengagumkan, wilayah tersebut adalah surga bagi ahli serangga dalam tim kami. Saya bahkan tidak perlu mencari semut karena mereka sendiri yang melompat ke arah saya," kata Leeanne Alonso dari Global Wildlife Conservation.

Selain hewan-hewan menakjubkan, mereka juga menemukan petroglyphs (ukiran batu) di dalam gua yang luas, dekat desa Kwamalasamutu, di dalam situs purbakala Werehpai. Situs ini dikenal sebagai pemukiman tertua manusia di selatan Suriname, dengan perkiraan terakhir menunjukkan tanda-tanda pernah digunakan sebagai tempat tinggal pada 5.000 tahun yang lalu. Saat ini lembaga Conservation International bekerja sama dengan masyarakat setempat sedang berupaya melestarikan dan mempromosikan Werehpai untuk ecotourism.
»»  LANJUTKAN...

Pola Kawin Penyu Tangkal Efek Global Warming

NICOSIA - Sebuah riset menemukan bahwa kebiasaan kawin penyu bisa membantunya melindungi diri dari efek perubahan iklim. Meskipun perubahan iklim masih ancaman terbesar untuk penyu, namun riset ini bisa membuat usaha konservasi menentukan area prioritasnya.

Pemanasan global mengancam populasi penyu hijau yang langka karena bisa memicu ketidakseimbangan jumlah kelahiran jantan dan betina. Seperti dilansir Science Daily, Kamis (26/1/2012), jenis kelamin bayi penyu ditentukan oleh suhu pada masa inkubasi. Suhu yang lebih hangat akan meningkatkan jumlah penyu betina yang lahir.

Dengan suhu rata-rata global yang lebih tinggi, ini berarti keturunan dari beberapa populasi  penyu akan didominasi oleh betina. Di sinilah ancama terhadap masa depan penyu muncul. Ada kekhawatiran bahwa perkawinan sejenis yang timbul karena kekurangan penyu jantan akan menimbulkan masalah kesehatan.

Riset difokuskan pada sebuah populasi penyu hijau (Chelonia mydas), yang bersarang di Northen Cyprus. Karena tingginya suhu musim panas wilayyah tersebut, 95 persen bayi yang menetas berjenis kelamin betina. Kemudian, para peneliti melakukan tes DNA untuk mengetahui ayah dari bayi-bayi penyu itu.

Berbeda dengan yang diharapkan, ternyata tes DNA tersebut menunjukkan sejumlah besar perkawinan dengan penyu jantan. Mereka menemukan setidaknya ada 28 penyu jantan yang mengawini 20 penyu betina, dan setiap bayi penyu bisa memiliki lebih dari satu Ayah. Ini mengindikasikan satu penyu jantan kawin dengan beberapa penyu betina dalam waktu yang berbeda. Ini berarti kesempatan untuk perkawinan sejenis jadi berkurang.

"Rasanya begitu mengagumkan untuk mengetahui di populasi penyu hijau ini ada begitu banyak pejantan yang menjadi Ayah. Ada kekhatiran besar bahwa kurangnya pejantan pada populasi kecil penyu laut dapat memicu perkawinan sejenis, ini berpotensi menghancurkan populasi," terang Lucy Wright, pimpinan riset dari University of Exeter Biosciences PhD.

"Namun, mengingat tidak seimbangnya perbandingan jumlah penyu betina yang menetas, riset kami menunjukkan bahwa ada banyak pejantan di luar sana, dan pola kawin mereka akan mendorong jumlah populasi untuk menangkan efek perubahan iklim," tambahnya.

Penelitian gabungan ini melibatkan tim dari University od Exeter (Inggris), University of Lefke (Turkey), dan North Cyprus Society for Protection of Turtles.
»»  LANJUTKAN...

Rabu, 25 Januari 2012

NASA Bersiap untuk Wisata ke Bulan

WASHINGTON - Sementara NASA tidak akan segera kembali ke Bulan dalam waktu dekat ini, tidak akan lama lagi para turis antariksa mungkin akan mengerumuni situs bekas pendaratan Apollo.

Kemungkinan tersebut membantu mengobarkan dukungan untuk menyatakan situs pendaratan di Bulan sebagai cagar sejarah atau taman nasional, sehingga memastikan situs itu aman dari gangguan.

Sejak tahun 1969 sampai 1972, NASA menempatkan 6 misinya di Bulan. Masing-masing mendarat di tempat yang berbeda, namun dalam setiap pendaratan tersebut astronot-astronot Amerika Serikat (AS) selalu meninggalkan artifak. Apolo 11, misi yang pertama, meninggalkan berbagai barang, dari "kamera, lunar TV" sampai sekumpulan koleksi urin.

Musim panas ini, NASA telah merilis panduan tentang perlindungan terhadap artifak dan situs pendaratan tersebut. Mereka mengumumkan zona larangan terbang seluas 1.200 hektar di sekitar situs pendaratan misi pertama, Apollo 11, dan yang terakhir, Apollo 17.

Apa yang membuatnya terburu buru? NASA sudah mulai memperoleh pertanyaan dari dua lusin atau lebih, tim yang bersaing demi USD30 juta, Google Lunar X Prize, bagi mereka yang berhasil mendaratkan sebuah robot di permukaan Bulan dengan dana mandiri.

Ini meningkatkan kemungkinan pesawat antariksa swasta mendarat dekat dengan 'jejak kaki' Buzz Aldrin dan Neil Armstrong di Bulan. Demikian seperti dilansir melalui Physorg, Rabu (16/11/2011).
»»  LANJUTKAN...

Kepler Temukan Planet Layak Huni

MOUNTAIN VIEW - Teleskop Kepler milik NASA berhasil menemukan sebuah planet yang diduga bisa dihuni untuk kesekian kalinya.

Planet layak huni yang ditemukan oleh Kepler tersebut memiliki orbit yang hampir sama dengan matahari di bumi. Penemuan tersebut semakin mendekatkan para ilmuwan untuk menemukan sebuah planet yang mirip dengan bumi.

"Kami semakin mendekati untuk menemukan apa yang disebut 'planet Goldilocks'," ujar Pete Worden, Direktur NASA Ames Research Center di Moffet Field, California.

Penemuan planet di zona layak huni ini dinamai Kepler-22b. Planet yang memiliki orbit bintang seperti matahari tersebut terletak sekira 600 tahun cahaya dari bumi.

Radius planet Kepler-22b sekira 2,4 kali lebih besar dibandingkan Bumi dan memiliki temperatur yang hampir sama dengan bumi. Jika efek rumah kaca dioperasikan di planet tersebut seperti halnya di bumi, rata-rata suhu permukaan Kepler-22b mencapai 22 derajat celcius.

Kepler, yang diluncurkan pada 2009, telah mengorbit matahari antara Bumi dan Mars, mencari planet yang mirip dengan Bumi sejak 2010. Kepler telah menemukan lebih banyak planet kecil dibandingkan planet raksasa.

Seperti dilansir Space.com, Selasa (6/12/2011), sejauh ini Kepler telah menemukan 2,326 planet yang berpotensi layak huni dalam kurun waktu 16 bulan masa beroperasinya.
»»  LANJUTKAN...

Efek Badai Matahari Belum Sampai Indonesia

JAKARTA - Badai Matahari yang sedang terjadi belakangan ini mulai melepaskan semburan gelombang radiasi yang lebih tinggi. Gelombang radiasi tersebut, dikatakan bisa mengganggu satelit komunikasi yang mengorbit di sekeliling Bumi.

Diwartakan Sydney Morning Herald, Rabu (25/1/2012), Doug Biesecker, fisikawan di US Space Weather Prediction Centre berpendapat bahwa radiasi badai matahari yang sedang berlangsung sekarang memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi komunikasi frekuensi tinggi di wilayah kutub. Sedangkan di wilayah Australia, dampak tersebut diharapkan lebih ringan.

"Ini dapat menimbulkan beberapa masalah pada beberapa frekuensi radio gelombang pendek. Beberapa operator jaringan listrik telah diperingatkan dan mereka bisa mengatasinya," jelas Dave Neudegg, Manager of Ionospheric Prediction Service Australia.

Mengenai efek badai Matahari tersebut ke Indonesia, Thomas Djamaluddin, profesor astronomi di LAPAN mengatakan, "Dampak di Indonesia masih dikaji dengan data stasiun-stasiun pengamat LAPAN." Namun, sampai saat ini Thomas mengungkap, "Belum ada laporan."

Dalam blognya, Thomas menerangkan bahwa badai Matahari tersebut tergolong cukup kuat dan berupa ledakan flare berskala M8-9. Badai Matahari itu Terjadi pada 23 Januari 2012 pukul 03.59 UT (10:59 WIB). namun, flare yang cukup kuat ini merupakan pertama kalinya sejak Mei 2005.

Kategori M sebenarnya tergolong kelas menengah, tetapi karena mendekati kelas ekstrem (kelas X), maka dampak badai Matahari akan cukup kuat kalau mengarah ke bumi. Pancaran sinar-X yang terekam pada satelit GOES menunjukkan peningkatan tajam sampai kelas M8-9.

Ledakan flare yang terjadi juga diikuti oleh CME (Coronal Mass Ejection), lontaran massa dari korona matahari, terutama proton dengan kecepatan tinggi, 1400 km/detik. CME terdeteksi wahana pemantau matahari SOHO pada posisi antara bumi-matahari berjarak 1.500.000  km dari bumi (sekitar 4 kali jarak bumi-bulan). Partikel bermuatan dari matahari itu tampak seperti hujan salju yang mengarah ke arah bumi.

Diperkirakan partikel energetik itu mencapai bumi sekitar 24 Januari malam waktu Indonesia. Badai matahari yang cukup kuat seperti ini berpotensi menggangu operasional satelit, seperti satelit komunikasi. Kalau itu terjadi dan tidak dapat diatasi oleh operator satelitnya, kemungkinan terjadi gangguan pada penggunaan telepon selular, siaran TV, komunikasi data perbankan, dan pengguna lainnya.

Tetapi biasanya para operator satelit sudah mengantisipasinya. Dampak lainnya adalah gangguan pada ionosfer yang akan mengganggu komunikasi radio HF/gelombang pendek yang biasa digunakan oleh komunikasi jarak jauh, termasuk oleh siaran radio luar negeri seperti BBC, VOA, atau ABC. Navigasi berbasis satelit seperti GPS juga kemungkinan terganggu akurasinya.
»»  LANJUTKAN...

Selasa, 24 Januari 2012

Inilah yang Tersembunyi di Balik Bayangan Bulan

WASHINGTON - Bagian paling menarik dari Bulan serta kerap jadi pertanyaan adalah sisi paling gelapnya yang sulit dilihat. Bagian ini tertutup bayangan permanen, selalu gelap, dan tidak pernah memantulkan cahaya Matahari.

Teleskop dan satelit tidak punya cara untuk membayangkan wilayah di balik bayangan permanen Bulan itu bila menggunakan pencahayaan biasa. Sekarang, para peneliti antariksa telah menggunakan metode yang lebih taktis untuk melihat apa yang tersembunyi di sana.

Dilansir Msnbc, Jumat (20/1/2012), wilayah yang selalu gelap tersebut terletak di kutub Bulan, dan umumnya berada jauh di dalam kawah yang tak dapat dijangkau cahaya Matahari. Para peneliti ternyata menemukan kemungkinan adanya kandungan air beku di sana.

"Ketimbang menggunakan cahaya Matahari yang dipantulkan lurus ke kawah, kami memilih rute tidak langsung," kata co-author penelitian Kurt Retherford, peneliti senior dari Southwest Research Institute di San Antonio.

Untuk melihat wilayah ini, para peneliti menggunakan cahaya yang dipantulkan dari atom hidrogen. Atom hidrogen yang mengambang di seluruh jagad raya tersebut, menyebar ke segala arah, bahkan dapat menjangkau wilayah tersembunyi di balik bayangan Bulan. Data baru yang mereka temukan menunjukkan tertutup bayangan itu memiliki lyman alpha emission yang lebih gelap ketimbang wilayah lainnya.

"Penjelasan terbaik kami tentang perbedaan pantulan di kutub Bulan adalah karena permukaannya lebih gembur dan pulen. Bentuknya seperti bubuk atau sejenis tepung," kata Retherford.

Penyebabnya bisa saja karena partikel kecil air beku bergerak keluar masuk dari butiran lumpur, dan menghasilkan lubang pada butiran-butiran tersebut sehingga menciptakan tekstur yang gembur.

Penelitian tersebut mengindikasikan kehadiran sekira dua persen air pada lumpur di wilayah berbayang, sedangkan pada wilayah yang terkena sinar Matahari hanya 0,5 persen saja.

"Anda akan mengharapkan wilayah yang tertutup bayangan permanen ini, memiliki lebih banyak lagi ketimbang yang telah kita lihat dari luar," tandasnya.

"Suatu hari, ketika astronot pergi ke wilayah ini, kita perlu indra yang lebih tajam untuk merasakan apa yang akan mereka lihat. Pengukuran air yang sebelumnya dilakukan berkaitan dengan air yang jauh di balik permukaan. Namun kami benar-benar berurusan dengan apa yang nampak di permukaan, yaitu akan adanya air yang lebih mudah diakses astronot di masa depan," tambahnya.
»»  LANJUTKAN...

Peneliti Temukan Fosil Hewan Asing Berbentuk Tulip

OTTAWA - Fosil hewan asing berbentuk bunga tulip ditemukan pada batu berusia 500 juta tahun. Peneliti mengatakan, sistem pencernaan hewan tersebut tidak sama dengan hewan apapun yang telah dikenal saat ini.

Diwartakan Live Science, Jumat (20/1/2012), tubuhnya yang berbentuk bunga tulip memiliki batang yang menempel ke dasar laut. Hewan itu 1memperoleh nama latin Siphusauctum gregarium. Panjangnya sekira 20 centimeter dan memiliki struktur seperti bohlam yang berisi sistem pencernaan serta ususnya.

Para peneliti menemukan fosil tersebut pada lapisan batu yang disebut Burgess Shale, di Canadian Rockies.

"Yang paling menarik adalah sistem pencernaan pada hewan ini  nampak unik di antara hewan-hewan lainnya. Kemajuan terbaru saat ini telah menghubungkan banyak hewan aneh di Burgess Shale sebagai anggota primitif dari berbagai kelompok hewan yang dikenal saat ini," terang Lorna O'Brien, peneliti penemunan tersebut sekaligus kandidat doktor di University of Toronto.

"Tapi Siphusauctum berbeda dari hewan-hewan tersebut. Kami tidak mengetahui organisme apakah yang memiliki hubungan dengannya,"  tandasnya.

Siphusauctum hidup berkelompok di lantai dasar laut dan berkumpul menyerupai taman. Dalam satu lembar fosil yang ditemukan, terdapat sisa-sisa lebih dari 65 individu hewan tersebut. Para peneliti telah menemukan sekira lebih dari 1.100 spesimen, dan kini menyebut wilayah penemuan fosil itu sebagai The Tulip Beds (Ranjang Bunga Tulip).
»»  LANJUTKAN...

"Popcorn" Berusia 6 Ribu Tahun Ditemukan di Peru

LIMA - Popcorn ternyata bukan hanya milik kebudayaan modern. Orang-orang zaman kuno di Peru telah mengenal masakan berbahan jagung itu sejak 6.700 sampai 3000 tahun yang lalu.

Ilmuwan menemukan bukti berupa kulit ari, batang, bonggol, dan jumbai (bunga jantan) jagung berusia ribuan tahun di situs purbakala Paredones dan Huaca Prieta di pesisir utara Peru. Demikian diwartakan Live Science, Senin (23/1/2012).

"Bukti tersebut digali selama tiga tahun belakangan," kata Dolores Piperno, peneliti sekaligus kurator New World Archaeology di Smithsonian National Museum of Natural History.

Karakteristik yang ditemukan pada bongggol jagung menunjukkan bahwa masyarakat kuno yagn pernah menghuni situs purbakala tersebut, mengenal beberapa menghidangkan dan memakan popcorn, termasuk membuat tepung jagung dan popcorn.

Para ilmuwan yang meneliti situs purbakala itu juga menemukan fosil jagung dalam ukuran mikro, yang mengandung tepung jagung dan phytoliths, yaitu partikel mikroskopis yang dibentuk oleh tanaman dan bahan penyusun utamanya adalah silicon dioksida.

Popcorn dari Peru itu merupakan bukti fosil makro tertua yang ditemukan di Amerika Selatan. Meskipun begitu, para ilmuwan tersebut berpendapat bahwa jagung bukanlah bahan yang berperan penting dalam pola makan orang-orang zaman kuno.

"Jagung pertama kali dibudidayakan di Meksiko hampir sekira 9.000 tahun yang lalu. Asalnya berupa rumput liar bernama teosinte. Hasil yang kami peroleh menunjukkan bahwa hanya beberapa tibu tahun setelahnya, jagung masuk ke Amerika Selatan," terang Piperno.

"Lebih jauh lagi bukti ini menunjukkan bahwa dibanyak  tempat, jagung telah lebih dahulu dimanfaatkan ketimbang gerabah, dan uji coba pertama untuk memanfaatkan jagung sebagai makanan tidak bergantung pada keberadaan gerabah," tambahnya.

Menurut para ilmuwan itu, mempelajari evolusi dan perubahan kecil dalam karakteristik jagung merupakan hal yang menantang, karena biji dan bonggol jagung tidak bertahan dengan baik di lingkungan hutan tropis yang lembab, antara Amerika Tengah dan Selatan. Padahal hutan tropis tersebut adalah rute utama penyebaran jagung dari Meksiko, sekira 8.000 tahun yang lalu.
»»  LANJUTKAN...

Fosil Koleksi Darwin Jadi Kunci Teori Evolusi

LONDON - Selama 160 tahun, fosil yang dikumpulkan Charles Darwin semasa remaja dilupakan begitu saja dalam lemari berdebu. Penemuan kembali koleksi fosil tersebut membuka kemungkinan baru teori evolusi.

Fosil-fosil itu dikumpulkan pada 1830 di wilayah Amerika Selatan. Saat itu Darwin sedang dalam perjalanan laut selama lima tahun bersama kapal HMS Beagle. Demikian diwartakan Dailymail, Senin (23/1/2012).

Para ahli berpendapat, penemuan tersebut menyinari harapan baru pada periode pembentukan diri Darwin, yang pelajaran tentang tumbuhan dan kehidupan liarnya menjadi pondasi teori evolusi.

Fosil-fosil tersebut ditemukan Howard Falcon-Lang dalam keadaan di-press dengan rapi dalam bentuk slide, dan beberapa di antaranya nampak memiliki tanda tangan Darwin. Paleontolog di Royal Halloway, University of London tersebut, menemukannya di ruang penyimpanan British Geological Survey, Nottinghamshire di sebuah lemari tua yang berlabel 'unregistered fossil plant'.

"Saya mudah tergoda misteri, jadi saya buka satu laci tersebut. Isinya membuat saya sangat terkejut! Di dalam laci itu ada ratusan slide kaca yang indah, dan ada label 'C. Darwin Esq' pada benda pertama yang saya ambil," terang Falcon-Lang.

"Ini adalah gambaran mengagumkan tentang masa Darwin berkarya. Ini adalah periode paling menarik dalam sejarah sains, tentang bagaimana terbentuknya pemikiran seseorang yang mengembangkan teori evolusi dan kemudian mengubah dunia," tambahnya.

Sejumlah 314 slide yang ditemukan Falcon-Lang termasuk tanaman berusia 40 juta tahun, berasal dari sebuah pulau terpencil di lepas pantai Chile. Slide lainnya menunjukkan jamur pohon berukuran besar yang menyelimuti Bumi pada masa 400 juta tahun lalu, ketika iklim sangat panas dan bahkan kutub tidak memiliki es.
»»  LANJUTKAN...

Sarang Dinosaurus Tertua Ada di Afrika Selatan

CAPE TOWN - Penemuan fosil sarang dinosaurus di Afrika Selatan menunjukkan kumpulan telur yang sebagian besar mengandung embrio. Sarang miliki dinosaurus pemakan tumbuhan tersebut diperkirakan berumur 190 juta tahun.

Selain fosil-fosil telur, para ilmuwan juga menemukan jejak kaki dinosaurus kecil yang baru dilahirkan. Temuan jejak kaki ini memeberi petunjuk bahwa hewan raksasa pra-sejarah tersebut tinggal cukup lama di dalam sarang sampai ukuran tubuhnya dua kali lipat lebih besar.

Seperti diwartakan The Telegraph, Selasa (24/1/2012), fosil sarang yang ditemukan di Golden Gate Highlands National Park tersebut adalah milik Massospondylus, yaitu dinosaurus berukuran 20 kaki (6.096 meter) yang hidup di masa 190 juta tahun lalu dan merupakan nenek moyang dinosaurus leher panjang sauropod.

Sekira 10 sarang ditemukan pada batuan di ketinggian berbeda, dan masing-masing sarang itu paling banyak berisi 34 butir telur. Ini mengindikasikan bahwa dinosaurus tersebut kembali ke tempat yang sama untuk meletakkan telurnya.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) ini, dipimpin oleh David Evans, kurator paleontologi vertebrata di Royal Ontario Museum, Kanada.

"Meskipun ada banyak catatan soal fosil dinosaurus, sebenarnya kami hanya punya sedikit fosil yang memberi informasi mengenai reproduksi biologisnya.. Khususnya untuk dinosaurus-dinosaurus di masa awal," terang Evans.

"Penemuan sekumpulan sarang dinosaurus berusia 190 juta tahun ini, adalah pertama kalinya kita memperoleh kesempatan melihat detil reproduksi dinosaurus di masa awal sejarah evolusinya. Sedangkan dokumen antik tentang cara dinosaurus bersarang hanya diketahui di catatan masa yang paling dekat dengan kita," tambahnya.
»»  LANJUTKAN...

Selasa, 17 Januari 2012

Berwarna Apakah Galaksi Bima Sakti Kita?

PITTSBURGH - Para astronom sedang berusaha untuk mengungkap sebuah jawaban akurat tentang warna galaksi Bima Sakti (Milky Way). Caranya, mereka menganalisanya menggunakan data dan gambar dari hampir sejuta galaksi lain untuk perbandingan.

Diwartakan Astronomy Now, Selasa (17/1/2012), warna suatu galaksi sangat penting karena dapat mengungkap aktivitas yang terjadi di dalamnya. Namun, bagi galaksi Bima Sakti ini jadi masalah karena berada di posisi terselubungi gas dan debu.

"Masalahnya sama dengan menentukan warna keseluruhan Bumi saat Anda cuma mengetahui bagaimana wujud Pennsylvania," terang Jeffrey Newman, profesor fisika dari University of Pittsburgh.

Para peneliti menggunakan data dan gambar yang dikumpulkan Sloan Digital Sky Survey (SDSS). Proyek tersebut telah mengukur hampir dari sejuta galaksi, termasuk warna. Berbekal informasi itu, dan dengan hanya menggunakan galaksi yang jumlah dan tingkat produksi bintang barunya sebanding dengan Bima Sakti, mereka berhasil menunjukkan dengan akurat rentang warna galaksi tempat Bumi berada.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa Bima Sakti mestinya berada dekat garis pemisah dua klasifikasi. Ini berarti galaksi kita adalah salah satu galaksi spiral yang paling terang. Ini juga bisa mengungkap bahwa sekarang galaksi kita sedang menuju akhir proses pembentukan," kata Timothy Licquia dari University of Pittsburgh, sekaligus rekan Newman.

"Beberapa miliar tahun yang akan datang, Bima Sakti akan jadi tempat membosankan dengan hanya menyisakan bintang merah tertua kita, dan lengan-lengan spiral yang cantik," tambahnya.

Bila tingkat pencahayaan rendah, mata manusia tidak sentsitif menangkap warna. namun, usaha kelompok peneliti luar angkasa tersebut kini telah membuahkan hasil. Galaksi Bima Sakti ternyata benar-benar putih. Selain itu, menurut para peneliti tersebut, warna putih galaksi Bima Sakti bisa dikatakan seputih susu.
»»  LANJUTKAN...

Senin, 16 Januari 2012

llmuwan Akan Gali Danau Purba di Kutub Selatan

Washington - Kutub Selatan memang masih menyimpan sejuta misteri. Atas hal itulah para ilmuwan menggali lokasi di sana yang diduga adalah danau purba.
Seperti yang dikutip dari MSNBC, sebuah tim yang terdiri dari para insinyur Inggris, baru saja kembali dari perjalanan penelitian selama 10 hari. Sekembalinya di sana, mereka berencana menggali danau purba yang tertutup es; yang mungkin menyimpan banyak rahasia kehidupan kehidupan yang belum diketahui sebelumnya.
"Kami berharap mampu temukan mikroorganisme jenis baru," ujar Martin Siegert, salah satu peneliti proyek tersebut.
Danau yang akan digali bernama Lake Ellsworth, yang memiliki panjang 12 kilometer dan lebar 3 kilometer, serta kedalaman 150 meter. Danau purba itu terkubur di bawah lapisan es setebal tiga kilometer.
"Danau itu juga telah terkubur selama ratusan ribu tahun," ujar Siegert, seorang glaciologist dan profesor di University of Edinburgh.

»»  LANJUTKAN...

Sabtu, 14 Januari 2012

Senja di Planet Alien Tidak Berwarna Merah

LONDON - Berwarna apakah senja di suatu planet asing yang jauh dari Bumi? Lewat data dari teleskop luar angkasa Hubble, ilmuwan eksoplanet Frederic Pont di University of Exeter telah merekonstruksi warna senja planet Osiris.

Diwartakan Dailymail, Sabtu (14/1/2012), planet yang juga dikenal dengan nama HD 209458 tersebut, berjarak 150 tahun cahaya dari Bumi, dan merupakan planet pertama yang terdeteksi memiliki uap air di atmosfernya.

"Saya takjub karena kita mengetahui seperti apa senja di HD 209458 dengan cukup akurat. Ketika kami mengumpulkan tranmisi spektrum atmosfer planet itu saat melintasi bintangnya, hal yang pasti diukur adalah berwarna apakah senja di sana," kata Pont.

"Karena suhunya yang hampir sama dengan suhu Matahari, bintang yang kelilingi planet itu berwarna putih bila dilihat dari luar atmosfer. Kemudian bintang tersebut akan memperoleh semburat biru seiring senja tenggelam lebih dalam," tambahnya.

Menurut Pont, penyerapan sodium yang terjadi di planet tersebut, menghilangkan warna merah dan oranye lalu menyebarkan warna biru, sehingga senja tersebut jadi berwarna biru-kehijauan.
sumber : okezone

»»  LANJUTKAN...

Rabu, 11 Januari 2012

Ahli Temukan Kristal Aneh dari Luar Angkasa

Princeton – Sebuah kristal aneh ditemukan di Rusia. Saat diteliti, kristal ini diketahui tak terbentuk di Bumi melainkan di luar angkasa. Ingin tahu?Kristal yang disebut quariscrystal ini memiliki struktur aneh antara kristal biasa dengan kaca. Kristal ini sebelumnya hanya bisa didapat dengan menciptakannya di dalam laboratorium sebelum akhirnya ditemukan di Koryak Mountains, Rusia pada 2009.
Kini tim peneliti mengatakan, bahan kimia yang terdapat dalam kristal Rusia ini menunjukkan, kristal ini berasal dari meteorit. Quariscrystal ‘melanggar’ beberapa aturan simetri yang ada pada struktur kristal konvensional seperti dikutip UPI.
Proses alami pembentukan kristal ‘simetri terlarang’ ini sendiri tetap menjadi misteri.
“Bukti yang kami temukan menunjukkan, kristal ini hanya bisa terbentuk secara alami di kondisi astrofisik dan tetap stabil di kosmik,” kata Paul Steinhardt dari Princeton University.

»»  LANJUTKAN...

'Manusia Akan Menjajah Mars dan Semesta'

London – Profesor Stephen Hawking meramalkan, manusia akan menjajah Mars dalam kurun kurang dari satu abad. Menurut profesor nyentrik ini, hal ini diperlukan sebelum Bumi hancur.Fisikawan yang berhasil memecahkan beberapa misteri terbesar semesta ini menyatakan, ‘hampir dipastikan’ bencana ‘seperti perang nuklir atau pemanasan global’ akan menghancurkan Bumi dalam seribu tahun ke depan.
“Penting sekali manusia menjajah luar angkasa. Saya yakin manusia pada akhirnya bisa hidup di Mars dan badan lain di tata surya, namun hal ini tak akan tercapai dalam 100 tahun mendatang,” paparnya.

Di sisi lain, sang ahli ini memperingatkan, ‘sangat berisiko berupaya berkomunikasi dengan peradaban alien’. “Jika alien memutuskan mengunjungi manusia, hasilnya akan seperti saat orang Eropa yang menyerang Amerika,” tutupnya.
»»  LANJUTKAN...

Kamis, 05 Januari 2012

2012 Akan Jadi Tahun Terpanas





London - Tahun 2012 ini bisa masuk ke daftar 10 tahun terpanas sejak 1850. Wow, bagaimana bisa?

Seperti yang dikutip dari ST, temperatur global untuk tahun 2012 diperkirakan akan menjadi lebih hangat sekira 14 derajat celsius, ungkap pihak Met Office di Inggris.
Prediksi ini merupakan kelanjutan dari penelitian yang dipublikasikan oleh Met Office dan University of East Anglia bulan lalu, yang menunjukkan bahwa temperatur tahun 2011 adalah 0,36 derajat celsius di atas rata-rata; membuatnya masuk urutan ke-11 tahun terpanas.
"2012 diharapkan akan berkisar 0,48 derajat celsius lebih panas ketimbang rata-rata 14,0 derajat celsius untuk periode jangka panjang (1961-1990)," ujar pihak Met Office.
"Pada tahun 2011 kami melihat fenomena La Nina yang kuat, yang mana mendinginkan temperatur global secara temporer. Kini La Nina telah kembali, dan meski tidak sekuat seperti awal 2011, tapi tetap mampu mempengaruhi suhu," tambah mereka.
"Kami memperkirakan bahwa tahun 2012 nanti akan lebih panas ketimbang tahun sebelumnya," jelas Adam Scaife, Head of Monthly to Decadal Foresting dari Met Office.
»»  LANJUTKAN...

'Dunia yang Hilang' Ditemukan di Laut Antartika

Sekumpulan spesies yang belum pernah diketahui sebelumnya ditemukan di dasar laut, dekat Antartika, berkerumun di sekeliling ventilasi hidrotermal yang panas dan gelap.

Penelitian yang dilakukan tim gabungan dari University of Oxford, University of  Southampton dan British Antartic Survey tersebut, berhasil menemukan spesies baru kepiting yeti, bintang laut, anemon laut, teritip, dan gurita.

"Ventilasi hidrotermal adalah rumah bagi hewan yang hanya dapat ditemukan di sana, dan mendapatkan energinya bukan dari Matahari tapi dari hancuran bahan kimia, seperti hidrogen sulfida," kata Profesor Alex Rogers dari Oxford University's Department of Zoology sekaligus pemimpin penelitian.

"Survei pertama dari ventilasi khusus, di Samudera Selatan dekat Antartika, mengungkapkan suatu 'dunia yang hilang', yang gelap dan panas, tempat sebuah komunitas mahluk laut yang sebelumnya tidak dikena," tambahnya.

Untuk menjelajah kedalaman East Scotia Ridge, di bawah Samudra Selatan, mereka menggunakan sebuah Remotely Operated Vehicle (ROV). Gambar yang diambil oleh ROV menampilkan sebuah koloni besar kepiting yeti, yang diperkirakan mendominasi ekosistem di ventilasi hidrotermal Antartika. Di wilayah lainnya, ROV memergoki sejumlah bintang laut pemangsa dengan kedelapan lengannya, merangkak menuju hamparan teritip.

Di kedalaman sekira 2400 meter di dasar laut, ROV menemukan seekor gurita berwarna pucat yang belum teridentifikasi. Demikian dilansir Physorg, Kamis (5/1/2012).
»»  LANJUTKAN...

Rabu, 04 Januari 2012

Hujan Meteor Pertama di Tahun 2012

WASHINGTON - Di awal tahun ini langit Bumi bakal 'kedatangan' hujan meteor pertama di tahun 2012. Fenomena alam tersebut bakal terjadi pada Rabu dini hari di wilayah utara pada pukul 3 sampai 5 pagi waktu setempat.

Hujan meteor ini dikenal dengan nama Quadrantids, yang merupakan konstelasi yang dulu bernama Quadran Muralis. Fenomena ini akan memproduks 60 sampai 200 coretan meteor per jamnya. Ini merupakan salah satu hujan meteor yang cukup besar.

"Jika langit sangat jelas dan gelap, sangat memungkinkan Anda untuk melihat meteor sangat jelas dengan mata telanjang, dengan kecepatan di atas 100 meteor per jam," kata Robert Lunsford, Meteor Society Amerika dari Space.com, seperti dilansir TG Daily, Rabu (4/1/2012).

"Pengamat  yang berada di bagian barat Amerika Utara akan memiliki tingkat yang lebih rendah tetapi juga akan memiliki kesempatan untuk melihat Quadrantid," tambahnya.

"Studi menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari komet yang pecah beberapa abad lalu, dan bahwa meteor yang Anda lihat sebelum fajar pada 4 Januari adalah puing-puing kecil dari fragmentasi ini," jelas NASA dalam sebuah pernyataan baru-baru ini .

"Setelah ratusan tahun mengorbit matahari, mereka akan memasuki atmosfer Bumi di 90.000 mph, pembakaran naik 50 mil di atas permukaan bumi," tandasnya.

Hujan meteor Quadranid berasal dari asteroid 2003 EH1, pertama kali dilihat tahun 1825. Hujan meteor sendiri disebabkan karena adanya debu asteroid yang ditinggalkan seiring pergerakannya.
»»  LANJUTKAN...

TUKAR LINK OTOMATIS