Tampilkan postingan dengan label Slank Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slank Info. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

Jazz: Dari Jalanan hingga Gedung Pertunjukkan

PLUR
Kalo artikel yang sebelumnya bercerita tentang musik reggae, kini kita akan bahas dikit tentang musik jazz. Musik yang katanya adalah musik orang gedean atau gedong. Tapi, apakah benar musik ini lahir dan diperuntukkan untuk orang gedong aja?
Sebenarnya musik jazz gak jauh beda ama reggae. Jazz juga lahir di jalanan dan merupakan sarana kebebasan bagi para pekerja (budak) dari Afrika yang bekerja di Amerika Serikat. Musik ini pun makin akrab di telinga orang-orang keturunan Afrika di Amerika (Afro-Amerika).
Musik ini makin berkembang memasuki awal abad 20. Sedangkan jazz sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1930-an. Ada yang bilang jazz ini dibawa para pekerja dari Filipina di Jakarta yang juga gemar bermain musik.
Pada tahun 1945-1950, di Indonesia muncul grup jazz, yakni Jack Lemmers yang dikomandani oleh Jack Lesmana (ayah dari Indra Lesmana). Kemudian berturut-turut muncul Bill Saragih, Eddy Karamoy, hingga Ireng Maulana.
Di beberapa kota besar di Indonesia juga sering diadakan festival musik jazz yang digelar saban tahun, antara Jakarta Jazz Festival, Jak Jazz, Jazz Goes To Campus, dan masih banyak yang lainnya. So, jazz berhasil merangkak dari tadinya hanya musik jalanan, kini mulai masuk ke gedung-gedung pertunjukkan. Pengunjangnya pun didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas.
Tapi image ini nggak selamanya melekat. Ada juga koq beberapa komunitas yang sering gelar musik jazz di jalanan. Mereka ingin supaya musik jazz bisa dinikmati oleh semua kalangan. Nggak Cuma orang-orang berduit aja.
Nah, bagaimana dengan Slank? Slank ternyata juga bisa bawain lagu jazz. Kalo lo nggak percaya coba aja lo tengok Java Jazz Festival 2009. Slank ikut maen di situ. Untuk pertama kalinya penyanyi bertelanjang dada di panggung musik jazz, yakni Kaka Slank.
Bahkan Slank bercanda dengan kalimat “para penonton wangi, rapi, keren, bersih, nyaksiin lima bajingan di panggung jazz. So, sebenarnya alirannya Slank itu apa? Rock n Roll bisa, Blues oke, Jazz bisa juga, Reggae juga, dangdut bisa. Semuanya bisa nih. Ckckck.
Fahmi Firmansyah
»»  LANJUTKAN...

Reggae: Musik Segala Zaman

From Blue Island with PLUR
Siapa yang nggak tau dengan musik reggae? Pasti diantara kita pernah dengar dan bahkan nyanyiin beberapa lagu reggae. Aliran musik yang lahir pada 1960-an ini memang identik dengan Jamaika, warna merah, kuning, dan hijau, dan rambut gimbal.
Akar musik reggae memang erat dengan Jamaika. Selain suku bangsa asli Indian yang mendiami wilayah Jamaika, di sana juga banyak berdiam budak-budak yang berasal dari Afrika yang dibawa oleh para penjajah Inggris dan Spanyol.
Nah, budak-budak dari Afrika ini dipekerjakan dengan kasar dan berat. Di tengah-tengah kesibukan mereka, mereka menyempatkan diri bersantai dan bernyayi ria. Nah, lagu dan musik yang mereka bawakan itulah yang disebut reggae.
Jadi, reggae memang dekat dengan kebebasan dan keinginan untuk terbebas dari segala bentuk penindasan. Musik ini juga identik dengan tarian dan tabuh-tabuhan gendang yang berasal dari Afrika.
Salah satu musisi reggae top dunia adalah Bob Marley yang banyak disukai dan diikuti gaya penampilannya. Musik dan gaya reggae pun juga ikut berkembang di Indonesia. Beberapa musisi reggae top tanah air antara lain Tony Q, Imanez, New Rastafara, Steven and Coconut Treez, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Slank pun beberapa kali pernah membawakan lagu bernuansa reggae. Coba aja lo dengerin lagu “Telanjang” di album “Lagi Sedih”. Itu lagu reggae banget. Dengan lirik yang sederhana, tapi mampu membawa kita ke alam kebebasan.
Atau lagu “Slalu Begitu” di album “Slow But Sure”. Bahkan video klipnya aja dibikin di tepi laut yang biru dan pasir yang putih yang menambah kesan ketenangan dan kedamaian. Bahkan lagu “Slalu Begitu” diberi penghargaan karya produksi reggae terbaik oleh AMI Awards ke-11 tahun 2011 lalu.
Nah, apakah di album terbarunya nanti, Slank akan membawakan lagu bernuansa reggae lagi? Kita tungguin aja rame-rame dan siap-siap dapetin kejutan di album Slank yang bakal rilis bentar lagi. Be There!!
(disarikan dari berbagai sumber oleh Fahmi Firmansyah).
»»  LANJUTKAN...

Sabtu, 14 Januari 2012

Cubit-cubitan Koes Plus dan Slank

Kalo temen-temen Slankers yang udah nonton pelem Get Married 3 yang dirilis sekitar bulan September lalu, pasti tahu judul lagu yang terdapat dalam sontrek film tersebut. Yups, untuk ketiga kalinya, Slank mengisi sontrek buat pelem tersebut. Pada jilid sebelumnya Slank berhasil mengisi sontrek Get Marred I dan II dengan melejitkan Pandangan Pertama, Kuil Cinta, dan Cinta Kita.
Kini, di Get Married 3, Slank membawakan lagu berjudul Cubit-cubitan. Lagu ini merupakan lagu lama band legendaris Koes Plus yang diaransemen ulang pasukan Slank.
Untuk ngasih info sedikit, Koes Plus adalah band yang muncul pada tahun 1960-an. Pada awal munculnya, band ini bernama Koes Bersaudara yang beranggotakan Djon (bass), Tony (melodi/piano), Yon (vokal), Yok (rythim/vokal), Jan (gitar), Nomo dan Iskandar (drum).
Tahun 1963, album Koes Bersaudara pun rampung dengan berisikan sebelas lagu. Diantaranya adalah Weni, Terpesona, Bis Sekolah, dan Telaga Sunyi. Lagu-lagu mereka pun tersebar luas ke masyarakat melalui Radio Republik Indonesia (RRI) dan Radio angkatan Udara.
Nah, ternyata kesuksesan mereka harus dibayar mahal. Pada tahun 1965 mereka ditangkap. Hal ini sebagai akibat pelarangan musik berbau kebarat-baratan yang dibikin oleh Presiden Soekarno pada saat itu.
Keajaiban pun datang pada tahun 1966. Mereka pun dibebaskan. Pada tahun 1969, Nomo pun keluar dan digantikan oleh Murry. Nama Koes Bersaudara pun diganti menjadi Koes Plus.
Koes Plus kembali ke puncak ketenaran. Pada tahun 1970-an, lagu-lagu mereka menjadi populer. Salah satunya adalah lagu Cubit-cubitan yang kemarin dibawain oleh Slank.
Tahun 1992, Koes Plus dianugerahi BASF Legend Awards. Penghargaan yang menandakan eksistensi mereka dalam bermusik. Mereka telah menciptakan 953 lagu dalam 89 album.
Koes Plus telah menjadi bagian dari legenda musik Indonesia. Kita memang butuh musisi-musisi yang tetap konsisten bermusik untuk mewarnai dunia musik tanah air. Bravo Musik Indonesia!
(disarikan dari “Sejarah Emas Koes Plus” hiburan.kompasiana.com 24 Januari 2011 dan berbagai sumber lainnya).

»»  LANJUTKAN...

BOY “SLANK” BAND

Dunia musik dan hiburan tanah air sekarang emang lagi diramaikan oleh boy band dan girl band. Bahkan, salah satu stasiun televisi swasta tanah air ngadain ajang pencarian bakat buat boy band dan girl band. Fenomena ini sering disebut Korean Wave (badai Korea) sebagai imbas masuknya budaya Korea ke negara kita dengan gencarnya. Masuknya budaya Korea ini bisa melalui musik dan film.
Banyak anak muda Indonesia tergila-gila pada boy band dan girl band Korea. Dan bahkan ikut bikin boy band / girl band. Beberapa boy band / girl band Indonesia yang cukup populer antara lain Smash, 7Icon, dan Cherrybelle.
Lalu muncul wacana, bagaimana jadinya kalo Slank jadi boy band? Sebelum tenar atau rame boy band seperti saat ini, tahun 2009, Slank pernah jadi boy band Slank Dance. (Lihat Koran Slank edisi Mei-Juni 2009).
Kalo boy band sekarang pada pake baju rapi lengkap dengan jas. Slank malah gak pake baju dalam video Slank Dance. Bukan hanya lewat gerak, Slank dalam Slank Dance juga menyuarakan kesetaraan dalam lirik lagunya.
Atau kalo mau flash back lebih jauh lagi, tahun 2003, dalam sebuah acara konser di JHCC (sekarang JCC), Slank tampil dengan gaya boy band. Lengkap dengan musik dan tari. Bahkan para personel Slank rela menanggalkan alat musik mereka demi tampil ala boy band tersebut.
Jadi, kalo ada yang nanya, gimana kalo Slank jadi boy band atau tampil bergaya boy band? Jawabannya adalah Slank udah pernah kaya gitu sebelum orang rame-rame bikin dan ngeributin boy band. So, Slank selangkah lebih maju kalo gitu, hehehe.

»»  LANJUTKAN...

SLANK : Sebuah Nama Sebuah Cerita

Tentu kita semua masih pada inget pada sebuah band asal kota Bandung yang kini sedang vakum. Yups, Peterpan namanya. Band yang diawaki oleh Ariel (vokal), Uki dan Loekman (gitar) dan Reza (drum) sekarang emang lagi vakum.
Udah lebih dari satu tahun mereka vakum dari dunia hiburan tanah air. Band yang lahir pada 1 September 2000 ini, total udah ngeluarin lima album plus satu album sound track film. Sejak tahun 2001, mereka aktif ngamen di berbagai kafe di kota Bandung.
Karier mereka baru mencuat ketika mengisi salah satu album kompilasi bertajuk Kisah 2002 malam. Salah satu lagu mereka yang berjudul Mimpi Yang Sempurna berhasil menjadi lagu andalan dan mendongkrak angka penjualan mencapai 150 ribu copy.
Tahun  2003, di bawah label Musica Studio, mereka merilis album perdana bertajuk Taman Langit dan berhasil meraih penghargaan Multi Platinum Awards. Kehadiran mereka mendapat sambutan yang cukup antusias dari pecinta musik di tanah air. Hal ini terbukti dengan munculnya komunitas penggemar yang mereka namakan “Sahabat Peterpan”.
Agustus 2004, Peterpan merilis album kedua bertajuk “Bintang di surga” dengan angka penjualan di atas satu juta copy dengan lagu andalan mereka “Ada Apa Denganmu” yang juga pernah dibawakan oleh penyanyi Didi Kempot dalam versi bahasa Jawa.
Berbagai macam penghargaan pun telah banyak didapatkan mereka sejak saat itu. Bahkan tahun 2006, Peterpan berhasil meraih MTV Music Awards. Akan tetapi, kesuksesan mereka harus dibayar mahal dengan keluarnya dua orang personil.
Oktober 2006, Indra dan Andika keluar, dan tak lama berselang mereka muncul dengan band baru bernama “The Titans”. Masalah tersebut tidak menjadi halangan bagi mereka untuk berkarya. Alhasil, Mei 2007, mereka merilis album ketiga mereka bertajuk “Hari Yang Cerah”.
Keberhasilan mereka ternyata harus terhenti untuk sementara waktu sejak tengah 2010. Akan tetapi karya-karya mereka masih banyak diputar dan diperdengarkan oleh para Sahabat Peterpan. Karya-karya terbaru mereka pun tetap dinantikan oleh pecinta musik tanah air.
Sebuah nama sebuah cerita. Peterpan tetap akan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dunia musik tanah air. Maju Terus Pantang Musik Industri Musik Indonesia!!

»»  LANJUTKAN...

SLANK : Musik Sebagai Media Kritik Sosial

“…musik hanya sekedar musik jika tidak diisi dengan sesuatu yang lebih berguna…” -kutipan kata-kata Abdee Negara dalam cover album Slankissme- Beberapa waktu terakhir, semakin banyak orang yang melayangkan kritik-kritik kepada pemerintah, oknum penegak hukum dan oknum-oknum lain. Kritik-kritik tersebut banyak disampaikan melalui demonstrasi, diskusi, media jejaring sosial, berbagai artikel di maedia cetak, hingga pemberitaan di televisi.
Mungkin cara-cara tersebut menjadi saluran apresiasi dan ekspresi kebebasan masyarakat. Namun, para seniman dan musisi memiliki cara yang berbeda dalam menyampaikan kritik sosial. Mereka lebih cenderung menyampaikan kritik sosial melalui film atau karya musik.
Wabil khusus buat para musisi, kita udah punya beberapa musisi yang berani buat membawakan lagu bertema kritik sosial. Tampaknya tidak berlebihan jika disebut sebagai keberanian. Mengingat beberapa musisi tersebut pernah menelurkan lagu-lagu kritik sosial ketika berada di suatu zaman yang penuh kekangan (baca: Orde Baru).
Sebut saja Iwan Fals yang sering membawakan lagu kritik sosial, baik bersama Swami, Kantata Takwa, maupun secara solo. Beberapa karyanya antara lain Siang Seberang Istana, Surat Untuk Wakil Rakyat, ataupun Bongkar.
Tentu saja ada Slank. Sejak awal kemunculannya tahun 1990, Slank kerap membawakan lagu bertema kritik sosial. Bahkan pada tahun 2008, Slank pernah bikin gerah anggota DPR lewat lagu Gossip Jalanan.
Tentu bukan aja mereka berdua. Masih ada Superman Is Dead, Efek Rumah Kaca, dan masih ada beberapa musisi yang mungkin membawakan lagu-lagu bertema kritik sosial dengan gaya bahasa yang tidak terlalu vulgar, seperti Dewa 19.
Lagu-lagu bertemakan kritik sosial tentu bukannya bermaksud untuk menggulingkan pihak pemerintah yang sedang berkuasa. Namun, hanya untuk mengingatkan pemerintah biar nggak kebablasan. Karena inilah cara yang bisa dilakukan oleh para musisi.
Jadi, buat pemerintah jangan langsung negative thinking dulu kepada para musisi. Dan jangan sembarang mencekal para musisi yang bawain lagu kritik sosial. Pun, tujuan mereka juga baik koq. Justeru kita butuh banyak musisi yang berani buat menyampaikan aspirasi masyarakat. Tabik.

»»  LANJUTKAN...

Rabu, 04 Januari 2012

DINAMIKA MUSIK ROCK INDONESIA

Fahmi Firmansyah
Setelah terbitnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) 1966, peran dan kekuasaan Presiden Soekarno semakin berkurang dalam tahta pemerintahan. Lokomotif kepemimpinan sedikit banyak dipegang oleh Soeharto yang kemudian pada tahun 1968 dilantik menjadi Presiden RI ke-2.
Imbas dari keluarnya surat tersebut juga merambah ke dunia seni dan hiburan. Jika pada masa Soekarno banyak larangan terhadap musik pop dan rock yang saat itu dianggap sebagai musik barat dan ngak ngik ngok dan anti revolusioner, pada masa Soeharto, musik pop dan rock mulai banyak berkembang.
Maka setelah itu, musisi pop yang pernah terkungkung pada era Soekarno kembali berproduksi. Sebut saja Koes Plus. Selain pop, aliran musik yang banyak digemari saat itu adalah rock. Beberapa band rock yang muncul pada saat itu adalah AKA (Apotik Kali Asin), The Rollies, dan God Bless.
Semangat rock and roll di Indonesia memang tidak bisa lepas dari arus rock yang datang dari barat. Beberapa band rock yang cukup populer pada saat itu antara lain Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, dan Rush. Banyak anak muda yang mengikuti gaya dan aksi panggung mereka.
Geliat musik rock semakin mejadi setelah kedatangan Deep Purple pada 1975. Namun, dibandingkan dengan musik pop, musik rock di Indonesia agak lambat pertumbuhannya dalam industri rekaman. Hal ini disebabkan anggapan bahwa musik rock kurang menguntungkan bagi perusahaan rekaman.
Pada tahun 1973, grup rock asal Solo, Trenchem membuat album rekaman dan gagal di pasaran. Berturut-turut kemudian muncul Beny Subardja dengan Lizard, Giant Step yang membuat album Giant Step I disusul album selanjutnya bertajuk Kukuh Nan Teguh.
Pada tahun 1976, SAS membuat album Baby rock dan God Bless membuat album Huma di Atas Bukit di bawah label Paramaqua. Hampir dari sekian banyak band rock dalam negeri mengalami kegagalan dalam penguasaan pasar musik. Hal ini juga terjadi akibat dari band rock itu sendiri yang lebih sering membawakan lagu band rock luar negri ketimbang lagu-lagu ciptaan sendiri.
Pada tahun 1980-an, musik rock tanah air mulai memperlihatkan kemajuan. Pada saat itu muncul musisi rock yang cukup mejanjikan, yakni Nicky Astria. Selain itu didukung dengan semakin maraknya festival musik rock di tanah air yang digelar oleh salah satu produser musik kenamaan, Log Zhelebour yang didukung oleh perusahaan rokok.
Memasuki tahun 1990-an, geliat musik rock semakin terasa. Pada saat itu muncul Gong 2000, Ikang Fawzi, dan tentu saja SLANK. Slank muncul membawa warna baru dalam musik rock tanah air dan memberi pengaruh besar sehingga mampu membentuk komunitas penggemar yang sangat besar.
Memasuki tahun 2000, musik tanah air semakin baervariasi. Seperti munculnya aliran “pop melayu” tahun 2006 yang dipelopori oleh Radja. Hingga tahun 2011 lalu mncul fenomena boy band dan girl band di Indonesia akibat pengaruh Korean Wave.
Memasuki tahun 2012, kami tidak ingin memprediksi siapa yang akan menguasai pasar musik tanah air. Yang jelas kami berharap semoga rock and roll akan tetap menggeliat dan mengakar kuat dalam dunia musik tanah air. Keep Rock ‘n Roll!!
Sumber Referensi:
Mulyadi, Muhammad. 2009. “Industri Musik Indonesia Suatu Sejarah”. Bekasi: Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial.
Theodore KS. “50 Tahun Musik Rock di Indonesia”. Rolling Stone Indonesia. Edisi 13, Mei 2006.

»»  LANJUTKAN...

REBUT !!!

From Blue Island Wih Plur
Mana ada perlawanan tanpa keringat.. Mana bisa kemenangan tanpa semangat.. Reff: Rebut.. Jangan didiamkan saja.. Rebut.. Kejar dan jangan diam saja.. #Rebut
Tentu Slanker udah pada tahu lirki lagu Rebut tersebut. Lagu yang terdapat dalam album the Big Hip tersebut mengajak kita semua untuk terus berusaha dan jangan pantang menyerah.
Gak ada kesuksesan dalam waktu singkat dan segala sesuatunya diperlukan proses dan pengorbanan. Jangan pernah putus asa dan pantang menyerah. Sebagai contoh kita berkaca saja pada SLANK.
Grup musik ini mampu bertahan selama 28 tahun. Namun, di balik kesuksesannya banyak cerita yang dapat kita jadikan pelajaran. Sehingga, kita juga dapat sedikit motivasi dalam menjalani tahun baru ini.
Ketika muncul pada 1983, Slank bukan siapa-siapa. Slank hanya band sekolahan yang belum dikenal masyarakat. Butuh enam tahun bagi Slank untuk dapat masuk dapur rekaman. Selama enam tahun itu pula, Slank banyak mengalami pergantian personel yang sedikit banyak membuat Slank goyah.
Selama 1983-1989, Slank rajin mengikuti lomba dan festival musik yang digelar di beberapa kota. Ada yang menang, tapi banyak juga yang nggak. Salah satunya, Slank berhasil menjuarai festival musik yang diadakan log Zhelebour tahun 1986.
Setelah melalui jalan panjang, alhasil tahun 1990 Slank merilis album perdananya bertajuk Suit-suit.. He.. He.. (Gadis Sexy). Setelah album perdana rilis pun, masih banyak yang mencaci dan menghina Slank.
Namun Slank tak pernah goyah. Perlahan Slank mulai banyak disukai masyarakat dan mendapat fans setia dan fanatik yang disebut Slankers. Kini setelah 28 tahun berdiri, telah banyak prestasi yang didapatkan oleh Slank.
Butuh pengorbanan dan semangat untuk mendapat kesuksesan. So, jangan pernah menyerah dan putus asa. Tahun baru semangat baru. REBUT!!


»»  LANJUTKAN...

Minggu, 01 Januari 2012

KOMUNITAS JALAN POTLOT


From Blue Island Wih Plur
Di era tahun 1990-an nama jalan ini mulai dikenal oleh kalangan pecinta musik domestik, jalan yang terletak di sekitar Taman Makam Pahlawan Kalibata dan Jalan Duren Tiga ini merupakan markas besar dari grup band SLANK dan para Slankers.
Mengapa daerah tersebut dinamai Potlot? Menurut buku “Djakarta: Kota Lambang Kemerdekaan” yang terbit pada tahun 1958, dulu di daerah dekat Pasar Minggu ini terdapat sebuah pabrik potlot yang bernama “Indoplano.”
Berbeda dengan jalan kebanyakan, di tempat itu terdapat sebuah komunitas anak muda yang  boleh dikatakan sangat kreatif di bidangnya, bidang yang pada umumnya sangat diminati kaum muda… ya musik! Komunitas anak muda ini tidak hanya sekedar kumpul-kumpul mendengarkan musik dari musisi idolanya saja, diawali dari jam session mereka berkarya atau menciptakan lagu-lagu sendiri bahkan pada akhirnya mempunyai management artis untuk komunitas mereka.
Layaknya institusi pendidikan non formal, Jalan Potlot No.14 bisa menghasilkan beberapa musisi muda yang pada saat pemunculannya bisa dan mampu bersaing dengan para pendahulunya baik secara penampilan dan hasil karyanya. Tak jarang juga karya-karya mereka bisa menciptakan trend baru pada saat itu dan bisa membuat pangsa pasar sendiri.
Sebut saja Oppie Andaresta & BOP, saat pemunculan pertamanya dengan bermodalkan lagu yang berirama sedikit berbau country dengan lirik  menggelitik langsung mencuri perhatian para penikmat musik dalam negeri lagu dengan lagunya yang berjudul Cuma Khayalan.
Contoh lain musisi jebolan Potlot yang mampu menciptakan trend & pangsa pasar sendiri adalah Alm. Imanez.. Dengan irama reggae berjudul Anak Pantai, Kidnap Katrina band alternativ rock dengan Anang Hermansyah sebagai vokalisnya, penyanyi solo Alm. Andi Liany, dengan lagu hit yang berjudul Sanggupkah serta band rock n roll Flowers. Mereka semua menghentak blantika musik domestik kala itu.
Seiring berjalannya waktu, komunitas tersebut lambat laun tak terdengar karena kesibukan masing-masing dari tiap individunya. Kini Jalan Potlot menjadi markas besar SLANK dan Slankers (penggemar fanatik Slank) untuk berinteraksi.
Dengan nama populernya, maka program ini disebut ”Potlot Jamming”,  program musik yang menampilkan musisi-musisi yang akan tampil dengan format live dipadu dengan segment jam session, kolaborasi musisi yang akan membawakan sebuah lagu tanpa harus latihan dahulu sebelumnya, justru latihannya yang akan menjadi daya tarik, menunjukkan bagimana musisi berinteraksi saat melakukan jam session.
>>>Nama tentativ ”(Potlot ) Plug n Play” program musik yang menampilkan acara musik dengan format live, dimana para musisi akan tampil dengan hanya membawa instrument yang mereka miliki seperti gitar, bass, snare, dan stick drum (amplifier dan drum sudah disediakan), mereka akan tampil apa adanya dengan penampilan yang maksimal, tetap ada segment jam session disini.
»»  LANJUTKAN...

Rabu, 28 Desember 2011

SLANK : MUSIK, IDENTITAS, dan GAYA HIDUP


Hulu
Siapa yang tidak mengenal Slank, salah satu grup musik terbesar di republik ini. Dikenal melalui lirik lagu yang manis dan kritis menyuarakan suara rakyat, selain itu juga dikenal gaya slengean yang menjadi ciri khas mereka, dan salah satu hal yang tidak kalah menarik dari mereka adalah grup musik terbesar yang memiliki penggemar setia nan fanatik yang tersebar di seantero negeri, bahkan mancanegara. Berikut ini akan dibahas mengenai perjalanan Slank dan beberapa cerita yang mengiringi perjalanan mereka sehingga menjadi grup musik bernapas rock n roll yang mampu bertahan selama 28 tahun, sebuah pencapaian yang sangat membanggakan.
Slank bermula dari sebuah grup musik yang terdiri dari pelajar SMA Perguruan Cikini, Jakarta yang didirikan pada awal 1983 dan beranggotakan Bimo Setiawan alias Bim-Bim (drums), Boy (Gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), dan Well-Welly (vokal). Pada awal kemunculannya, grup musik ini banyak membawakan lagu-lagu Rolling Stone dan beberapa lagu van Hallen, Led Zeppelin, dan Bob Marley. Mereka pun kerap tampil di beberapa acara musik yang diadakan di sekolah mereka.
Seiring dengan berjalan waktu, beberapa personel Cikini Stones Complex mulai jenuh membawakan lagu-lagu Rolling Stones dan beberapa lagu dari penyanyi atau grup musik rock lainnya. Salah satunya adalah Bim-bim, ia berinisiatif untuk membawakan lagu ciptaan sendiri. Usul Bim-bim mendapatkan reaksi beranekaragam, ada yang setuju dan ada juga yang tidak. Mereka yang tidak setuju memilih keluar, antara lain Boy, Abi, dan Well-Welly. Tidak lama setelah itu, posisi mereka pun digantikan oleh tiga personel baru, yakni Deni BDN (bass), Bongky (gitar), dan Erwan (vocal).
Pergantian tiga personel tersebut, juga berdampak pada pergantian nama grup yang mereka gunakan sebelumnya, Cikini Stones Complex kemudian berubah menjadi Red Evil. Hal ini terjadi pada pertengahan tahun 1983. Pasca pergantian nama tersebut, Red Evil pun semakin sering tampil di beberapa acara musik. Gaya berpakaian mereka tergolong nyeleneh, dan slengean. Terkadang mereka hanya mengenakan kaus bola dan sandal. Gaya mereka yang seperti ini, melekatkan image slengean dan pada tanggal 26 Desember 1983, Red Evil mulai ditanggalkan dan mereka mulai menggunakan Slank. Sejak saat itulah setiap tanggal 26 Desember diperingati sebagai hari jadi Slank.
Dalam perjalannya, Slank kerap mendapat masalah, yakni sering terjadinya pergantian personel. Beberapa alasan muncul sebagai penyebabnya, antara lain masalah studi, masalah keluarga, hingga dipaksa menikahi pacarnya yang telah hamil pra nikah. Pergantian personel terakhir sebelum masuk dapur rekaman terjadi pada tahun 1989, formasi Slank terdiri atas Bim-bim, Pay, Bongky, Indra Q, dan Kaka. Mereka pun siap masuk ke dapur rekaman. Beruntung mereka bertemu dengan Boedi Soesatyo, seorang produser label rekaman, Project Q.
Menurutnya, lagu-lagu Slank cukup unik dan berbeda dengan grup musik rock yang tengah ada pada saat itu. Sehingga ia pun mau mengajak Slank rekaman. Alhasil, Desember 1990, Slank pun merilis album pertamanya, Suit-suit He..He.. (Gadis Sexy). Cover album tersebut terdapat logo Slank bergambar kupu-kupu yang melambangkan kebebasan dan keindahan. Dalam album tersebut, terdapat sepuluh lagu dengan aliran rock n roll dan blues dengan tema yang beraneka, seperti cinta, sex and party,dan kritik sosial. Salah satu lagu yang menjadi andalan mereka adalah Maafkan.
Pasca dirilisnya album pertama tersebut, nama Slank semakin dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Prestasi perlahan menghampiri. Salah satunya penghargaan dari BASF Award kategori Best Selling Album for Rock Category dan “Pendatang Baru Terbaik”. Eksistensi Slank pun tidak berhenti di situ. Berturut-turut hingga tahun 1995, mereka berhasil merilis empat album, yakni Kampungan (1992), Piss (1993), Generasi Biru (1994) (album perdana dengan status indie label di bawah naungan Piss Record), dan Minoritas (1995). Sebuah pencapaian yang membanggakan.
Pada tahun 1996, Slank mengalami sedikit kegoyahan, yakni keluarnya Bongky, Indra, dan Pay dari formasi Slank. Pasca keluarnya tiga personel tersebut, Bim-bim segera mencari penggantinya, dan bergabunglah Ivanka (bass) dan Reynold (gitar). Formasi ini ternyata berhasil melahirkan sebuah album bertajuk Lagi Sedih dengan lagu andalan Tonk Kosong. Setelah dirilis album tersebut, ternyata Reynold memilih keluar dari Slank. Slank pun segera mencari pengganti posisi gitaris melalui audisi. Tidak lama berselang bergabunglah dua personel baru, yakni Abdee dan Ridho sebagai gitaris.
Formasi ini yang kita kenal sampai sekarang, (baca: Bim-bim, Kaka, Ivanka, Abdee, dan Ridho). Mereka berhasil merilis tiga belas album, (belum termasuk album kompilasi, dan Original Sound Track). Album tersebut antara lain; Tujuh (1998), Mata Hati Reformasi (1998), 999+09 (1999), Virus (2000), Satu Satu (2003), Road To Peace (2004), PLUR (2005), Slankissme (2005), Slow But Sure (2007),  The Big Hip (2008), Anthem for The Broken Hearted (2009), dan Jurus Tandur (2010).
Beberapa tema lagu Slank
Slank memang terbilang unik, ketika penyanyi dan grup musik lain hanya membawakan lagu bertema cinta, Slank tidak demikian. Beberapa tema berbeda kerap dibawakan oleh Slank, antara lain cinta, kritik sosial, alam, gaya hidup, tema-tema ekspresif, dan tema-tema socia movement. Slank pun dikenal sebagai grup yang sering mengkritik pemerintah. Tentu kita masih ingat lagu Gossip Jalanan yang sempat membuat gerah anggota DPR pada tahun 2008. //Mau tahu gak mafia di Senayan// Kerjaannya tukang buat peraturan// Bikin UUD// Ujung-ujungnya Duit//. Sebenarnya, bukan kali ini saja Slank membawakan lagu bertema kritik sosial, dari album pertama Slank sudah membawakan lagu-lagu kritik sosial, seperti Apatis Blues, Piss, hingga Pak Tani.
Slank dan Slankers
Ketika kita membahas Slank, maka tidak akan dapat dipisahkan dari Slankers, komunitas penggemar yang sangat setia dan fanatik. Komunitas Gang Potlot ini telah ada sejak tahun 1983, bahkan sebelum Slank masuk dapur rekaman. (Wawancara dengan Bens Leo, 28 Maret 2011). Namun, nama Slankers baru digunakan pada tahun 1992, setelah album kedua dirilis. Gaya berpakaian Slank yang slengean dan gaya rambut gondrong ternyata banyak diikuti oleh penggemarnya. Para penggemar tersebut sering disapa Slank.
Untuk membedakan antara Slank dan penggemarnya, maka Kaka menjuluki me-reka dengan istilah Slankers. (Wawancara dengan Bim-bim, 1 Februari 2011). Jumlah pasti Slankers saat ini memang masih rancu. Jika diukur dari jumlah penjualan album Slank, maka jumlah Slankers mencapai angka 400.000 orang. (Lihat Mimpi Pulau Biru Sabang-Merauke dalam Gatra, 18 Januari 2003). Sebuah angka yang fantastis bagi komunitas penggemar grup musik di Indonesia. Tidak hanya disitu, simbol Slank bergambar kupu-kupu sering kita lihat tertera di bendera, kaus, sandal, dan atribut lainnya yang kerap digunakan oleh para Slankers.
Bahkan, hampir di setiap konser musik, bendera Slank dipastikan berkibar, meski terkadang Slank tidak tampil dalam konser tersebut. Maka tidak berlebihan jika saya menjuluki Slank sebagai “band sejuta umat”. Bagi Slankers, Slank bukan hanya sekedar musik, melainkan telah menjadi ideologi (baca: Slankissme). Slank tidak pernah bosan menyampaikan nilai positif di dalam setiap lagunya yang kemudian dijadikan pedoman bagi para penggemarnya. Slank telah menyebarkan virus perdamaian dan pembebasan bagi para generasi muda yang terkesan selalu digurui oleh tetua. Istilah Generasi Biru kerap disandangkan kepada para Slankers, generasi yang bebas, slengean tapi bertanggung jawab.
Hilir
Melalui lirik lagu, musik, gaya hidup slengean, Slank menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Slank pun tidak dapat dipisahkan dari Slankers. Loyalitas mereka tidak perlu dipertanyakan. Bahkan saking banyaknya Slankers, Slank kerap didekati oleh beberapa partai politik, karena mereka melihat potensi yang sangat besar yang dimiliki oleh Slank. SELAMA REPUBLIK INDONESIA MASIH ADA, SLANK AKAN TETAP ADA (Bim-bim).

»»  LANJUTKAN...

Senin, 26 Desember 2011

Happy B’day Bim-bim


Jika hari ini adalah ulangtahun Slank yang ke-28, maka sehari sebelumnya, 25 Desember kemarin adalah ulang tahun Bimo Setiawan Almachzumi (Bim-bim) Slank. salah satu personel Slank sekaligus pendiri Slank pada 1983 silam.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, di markas Slank di Jalan Potlot selalu ramai didatangi oleh para Slankers yang ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bim-bim. Suasana Jalan Potlot dan sekitarnya pun ramai didatangi dan dipenuhi oleh para Slankers.
Padahal, pada hari itu, di Potlot tidak diadakan acara apapun. Namu, Slankers tetap setia menunggu hingga bintang kesayangannya keluar dari kediamannya.
Gayung bersambut, pada pukul 12.15 siang, Bunda Iffet muncul di balkon lantai dua kantor Pulau Biru. Sontak, para Slankers teriak antusias. Bunda menyampaikan sepatah dua patah kata berisi wejangan kepada Slankers. Terutama nasihat yang berisi agar Slankers tidak membuat gaduh di jalanan.
Tak lama berselang, sang drummer pun muncul ditemani oleh sang istri, Reny dan putri keduanya, Tallulah. Sambil mengucapkan terima kasih kepada Slankers, slankers pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun kepada sang idolanya tersebut. LANJUTKAN
»»  LANJUTKAN...

TUKAR LINK OTOMATIS